Garter di Nikahan Luna Maya Ramai Dibahas, Emang Tradisi Apa Sih Itu?

Table of Contents

Belakangan ini, salah satu momen dari pesta pernikahan aktris kenamaan Tanah Air, Luna Maya, dengan kekasihnya, Maxime Bouttier, jadi perbincangan hangat di media sosial. Bukan soal gaun atau dekorasi mewahnya, tapi tentang tradisi garter yang muncul di acara tersebut. Video singkat yang memperlihatkan Maxime melepas garter dari paha Luna Maya langsung bikin banyak orang penasaran.

Banyak yang bertanya-tanya, apa sebenarnya tradisi garter ini? Kenapa ada di acara pernikahan? Dan apa maknanya? Ternyata, ini adalah salah satu tradisi pernikahan yang cukup umum di budaya Barat, meskipun di Indonesia mungkin masih terasa asing bagi sebagian orang.

Apa Itu Tradisi Garter dalam Pernikahan?

Jadi, tradisi garter ini intinya adalah momen di mana pengantin pria melepas aksesori berupa garter yang dikenakan pengantin wanita di pahanya. Biasanya, ini dilakukan saat resepsi pernikahan, di depan para tamu. Pengantin wanita akan duduk di kursi yang sudah disiapkan.

Kemudian, pengantin pria akan berlutut di depannya. Dengan hati-hati (atau kadang dengan gaya yang sedikit menggoda), pengantin pria akan menyelipkan tangan atau bahkan menggunakan giginya untuk melepaskan garter yang tersembunyi di balik gaun pengantin yang indah. Momen ini seringkali diiringi sorakan dan tawa dari para tamu yang menyaksikan.

Setelah garter berhasil dilepas, apa yang terjadi? Mirip dengan tradisi lempar buket bunga untuk para wanita lajang, garter ini akan dilemparkan ke kerumunan tamu pria yang masih berstatus lajang. Siapa pun tamu pria yang berhasil menangkap garter tersebut dipercaya akan menjadi orang selanjutnya yang menikah.

Serunya lagi, tradisi ini seringkali dipasangkan dengan tradisi lempar buket. Tamu pria yang menangkap garter biasanya akan ‘memasang’ garter tersebut di paha tamu wanita yang berhasil menangkap buket bunga. Momen ini menambah keseruan dan jadi hiburan tersendiri di pesta pernikahan.

Asal Usul Tradisi Garter yang Penuh Sejarah

Meskipun bagi sebagian orang mungkin terlihat seperti tren baru atau sekadar permainan seru di pesta, tradisi garter ini punya akar sejarah yang cukup panjang, lho. Diperkirakan tradisi ini sudah ada sejak zaman Abad Pertengahan di Eropa. Wow, sudah sangat tua ya!

Awalnya, tradisi ini punya makna yang sangat berbeda dari sekadar lempar-lemparan di pesta. Pada masa itu, ada kepercayaan bahwa mendapatkan ‘potongan’ dari pengantin, terutama pengantin wanita, bisa membawa keberuntungan. Bayangkan, para tamu bahkan sampai mencoba merobek potongan gaun pengantin!

Nah, garter ini kemudian muncul sebagai alternatif yang lebih ‘beradab’ dan kurang merusak. Garter dianggap sebagai salah satu barang pribadi milik pengantin wanita. Melepas garter dan membagikannya (melalui lemparan) dianggap sebagai cara pengantin membagikan keberuntungannya kepada para tamu.

Seiring waktu, makna dan cara pelaksanaannya pun berubah. Dari sekadar ‘potongan keberuntungan’, tradisi ini berkembang menjadi simbol lain yang terkait erat dengan aspek intim dalam pernikahan. Bahkan, ada yang menyebut tradisi ini baru benar-benar populer dalam format lempar-lemparan seperti sekarang sekitar pertengahan tahun 1900-an, seperti yang disebutkan oleh sejarawan mode. Jadi, meskipun akarnya tua, format pestanya mungkin relatif lebih modern.

Mengintip Garter: Benda Seperti Apa Itu?

Mungkin ada yang bertanya-tanya, benda apa sih garter itu sebenarnya? Secara fisik, garter adalah semacam ikatan melingkar yang terbuat dari kain, seringkali elastis dan dihiasi renda atau pita. Fungsinya di zaman dulu adalah untuk menahan stoking wanita agar tidak melorot. Ya, sebelum ada stoking modern yang bisa melekat sendiri, garter ini sangat penting fungsinya dalam berbusana.

Untuk garter pernikahan, bentuknya dibuat lebih cantik dan spesial. Material yang umum digunakan antara lain renda, satin, sutra, atau tule. Garter ini seringkali dihias dengan detail-detail manis seperti mutiara, pita, bunga mawar kain, payet, atau bahkan sentuhan warna biru untuk memenuhi tradisi “something blue” dalam pernikahan Barat.

Letak pemakaiannya adalah di paha atas pengantin wanita. Cara paling mudah menentukannya adalah sekitar sejengkal tangan di atas lutut. Tujuannya agar garter tidak terlihat saat pengantin wanita berdiri atau berjalan, tapi cukup mudah dijangkau oleh pengantin pria saat tradisi pelepasan dilakukan. Ukurannya disesuaikan agar pas, tidak terlalu ketat dan tidak terlalu longgar.

Beberapa pengantin bahkan memakai dua garter: satu yang akan dilempar (throwaway garter) dan satu lagi yang akan disimpan sebagai kenang-kenangan (keepsake garter). Garter yang disimpan biasanya lebih mewah atau sentimental maknanya, sementara yang dilempar bisa jadi versi yang lebih sederhana.

Makna Simbolis Garter yang Berubah dari Masa ke Masa

Seperti yang sudah disinggung sedikit, makna tradisi garter ini sangat bervariasi tergantung pada era dan sudut pandang budaya. Pada masa Abad Pertengahan, ketika asal usulnya bermula, garter memiliki makna yang sangat terkait dengan bukti konsumasi pernikahan. Ya, di zaman itu, pernikahan dianggap sah setelah pasangan membuktikan bahwa mereka telah melakukan hubungan seksual.

Garter, sebagai salah satu pakaian intim pengantin wanita, kadang diambil oleh para tamu (bahkan dengan cara ‘menyerbu’ kamar pengantin) sebagai semacam bukti atau ‘souvenir’ dari malam pertama pasangan pengantin. Ini terdengar agak aneh dan invasif ya di telinga kita sekarang, tapi itulah salah satu interpretasi historisnya. Garter menjadi simbol dari ‘deflowering’ atau hilangnya keperawanan pengantin wanita.

Seiring berjalannya waktu dan perubahan norma sosial, makna ‘bukti konsumasi’ ini perlahan memudar. Tradisi garter bertransformasi menjadi simbol keberuntungan, kesuburan, dan dimulainya hidup baru bagi pasangan. Ketika pengantin pria melepas garter, itu bisa diartikan sebagai simbol ‘menguasai’ atau ‘mengambil’ pengantin wanitanya secara simbolis di hadapan para tamu.

Pada perkembangannya di era yang lebih modern, makna simbolis yang dalam ini semakin bergeser menjadi sekadar ritual yang menyenangkan dan menghibur dalam resepsi. Lempar garter kini lebih dilihat sebagai pelengkap dari lempar buket, menciptakan momen yang lucu dan interaktif antara pengantin dan tamu-tamu lajang mereka. Fokusnya beralih dari makna historis yang kadang dianggap kontroversial atau terlalu intim, menjadi semata-mata hiburan dan harapan baik bagi teman-teman yang masih lajang.

Meskipun maknanya telah berevolusi, tradisi ini tetap dipertahankan oleh banyak pasangan di Barat, dan bahkan diadopsi oleh beberapa pasangan di luar budaya Barat, termasuk di Indonesia, seperti yang kita lihat di pernikahan publik. Ini menunjukkan betapa kuatnya daya tarik ritual pernikahan, bahkan yang paling unik sekalipun.

Mengapa Tradisi Garter Tetap Populer?

Terlepas dari asal usulnya yang mungkin terdengar agak ‘unik’ di zaman modern, tradisi garter tetap populer di banyak pernikahan. Ada beberapa alasan mengapa pasangan memilih untuk memasukkan ritual ini ke dalam pesta mereka:

  1. Hiburan dan Interaksi: Momen pelepasan dan lemparan garter sangat menghibur. Ini menciptakan tawa, sorakan, dan sedikit kompetisi seru di antara para tamu pria lajang. Ini adalah cara bagus untuk melibatkan tamu dalam perayaan.
  2. Pelengkap Tradisi Lain: Tradisi garter seringkali dilakukan bersamaan dengan lempar buket. Pasangan buket dan garter ini menciptakan ‘pasangan’ lajang di antara para tamu, yang menambah elemen cerita dan keseruan. Konon, pasangan yang menangkap buket dan garter ini adalah jodoh!
  3. Simbolisme Modern: Meskipun makna historisnya kuat, banyak pasangan modern mengartikannya kembali sebagai simbol yang lebih ringan. Bisa jadi simbol keberuntungan yang dibagikan, atau sekadar ekspresi kebahagiaan pasangan di awal hidup baru mereka.
  4. Menjaga Tradisi: Bagi sebagian orang, memasukkan tradisi garter adalah cara untuk menghormati atau menjaga tradisi pernikahan klasik, bahkan jika mereka tidak sepenuhnya menganut makna aslinya. Ini adalah bagian dari warisan budaya pernikahan Barat.
  5. Unik dan Berbeda (untuk konteks non-Barat): Di negara seperti Indonesia, tradisi ini belum seumum di Barat. Munculnya tradisi garter bisa jadi cara pasangan untuk membuat pernikahan mereka terasa unik atau berbeda, memberikan pengalaman baru bagi para tamu.


Wedding Garter Tradition

Prosesi Lempar Garter: Lebih dari Sekadar Melepas dan Melempar

Prosesi lempar garter ini sebenarnya punya detailnya sendiri yang menambah keseruannya. Setelah pengantin wanita duduk dan pengantin pria berlutut, seringkali ada musik latar yang mengiringi. Musiknya bisa bernada romantis, menggoda, atau bahkan lucu, tergantung suasana yang diinginkan pasangan.

Pengantin pria biasanya akan sedikit beraksi saat melepas garter, mungkin dengan ekspresi jenaka atau gerakan yang sedikit dramatis, yang pasti mengundang tawa dari para tamu. Setelah garter berhasil dilepas, pengantin pria akan berdiri dan menghadap kerumunan tamu pria lajang yang sudah berkumpul di belakangnya.

Sama seperti lempar buket, ada hitungan mundur sebelum garter dilempar. Para pria lajang akan bersiap, melompat, dan berusaha menangkap garter tersebut. Siapa pun yang menangkapnya akan menjadi sorotan berikutnya. Momen ini penuh energi dan kegembiraan.

Dan puncaknya adalah saat si penangkap garter ‘memasangkan’ garter tersebut pada si penangkap buket (jika ada). Ini dilakukan dengan ‘formalitas’ yang lucu, di mana pengantin pria yang baru saja melepas garter bisa jadi yang memandu si penangkap garter untuk memasangkannya di paha si penangkap buket. Seluruh prosesi ini didokumentasikan fotografer dan videografer karena dianggap sebagai salah satu highlight acara.

Garter dalam Konteks Pernikahan Modern

Di era modern ini, meskipun masih banyak pasangan yang melakukan tradisi garter, ada juga yang memilih untuk tidak melaksanakannya. Beberapa orang merasa makna historisnya terlalu intim atau tidak relevan lagi. Ada juga yang merasa tidak nyaman dengan ide garter dilepas di depan umum.

Namun, bagi yang memilih melaksanakannya, ini seringkali dilakukan dengan cara yang ringan dan penuh keceriaan, jauh dari makna ‘bukti’ konsumasi di masa lampau. Ini adalah momen fun dan interaktif yang memecah keheningan resepsi dan membuat tamu merasa dilibatkan.

Bahkan, tradisi garter bisa dimodifikasi. Misalnya, pengantin wanita bisa memilih untuk mengenakan celana atau gaun yang memudahkan pelepasan garter tanpa terlalu banyak ‘akrobat’. Pasangan juga bisa memilih musik yang sangat personal atau lucu untuk mengiringi momen ini.

Intinya, di pernikahan modern, banyak tradisi yang bisa disesuaikan atau diinterpretasikan ulang agar sesuai dengan kepribadian dan kenyamanan pasangan pengantin. Tradisi garter ini adalah salah satu contohnya, yang berhasil bertahan melewati zaman dengan adaptasi makna dan cara pelaksanaannya.

Munculnya tradisi ini di pernikahan figur publik seperti Luna Maya menunjukkan bahwa tradisi garter ini semakin dikenal dan mungkin diadopsi oleh masyarakat yang lebih luas, terlepas dari latar belakang budayanya. Ini menambah warna dan variasi dalam ragam acara pernikahan di Indonesia.

Tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang tradisi pernikahan unik lainnya? Atau mungkin punya pengalaman seru soal tradisi garter ini? Jangan ragu berbagi ya!

Posting Komentar