Khutbah Idul Adha 2025: Contoh Resmi MUI, Muhammadiyah & Kemenag, Yuk!

Table of Contents

Hari Raya Idul Adha tahun 2025 telah ditetapkan jatuh pada hari Jumat, 6 Juni 2025, berdasarkan hasil sidang isbat Kementerian Agama RI. Di hari yang penuh berkah ini, umat Muslim di seluruh dunia berkumpul untuk melaksanakan shalat Idul Adha, yang dilanjutkan dengan mendengarkan khutbah. Khutbah Idul Adha ini memiliki peran penting sebagai pengingat dan penambah semangat keimanan.

Khutbah Idul Adha disampaikan oleh khatib setelah selesai pelaksanaan shalat Id berjamaah. Ada beragam tema menarik yang bisa diangkat dalam khutbah, semuanya bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan dan pemahaman umat Islam tentang ajaran agama. Berikut adalah beberapa contoh teks khutbah Idul Adha yang bisa menjadi inspirasi, mencerminkan perspektif dari beberapa lembaga keagamaan di Indonesia.

Contoh Khutbah Idul Adha

Hikmah Qurban Ikhlas di Dunia dan Akhirat (Contoh Teks Khutbah)

Khutbah I

اَللهُ اَكْبَرُ - اَللهُ اَكْبَرُ - اَللهُ اَكْبَرُ
اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا, وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا, وَسُبْحَانَ اللّٰهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلًا, لَااِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَاَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْاَحْزَابَ وَحْدَهُ, لَااِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَلاَنَعْبُدُ اِلَّا اِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ وَلَوْكَرِهَ الْكَافِرُوْنَ وَلَوْكَرِهَ الْمُنَافِقُوْنَ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن, اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ, وَبِعَفْوِهِ تُغْفَرُ الذُّنُوْبُ وَالسَّيِّئَاتُ, وَبِكَرَمِهِ تُقْبَلُ الْعَطَايَا وَالْقُرْبَاتُ, وَبِلُطْفِهِ تُسْتَرُ العُيُوْبُ وَالزَّلَّاتُ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الذِي اَمَاتَ وَاَحْيَا, وَمَنَعَ وَاَعْطَى, وَاَرْشَدَ وَهَدَى, وَاَضْحَكَ وَاَبْكَى. ﴿ وَقُلِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا ﴾.
فَيَاأَيُّهَاالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَاعْلَمُوْا اَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ فَضِيْلٌ وَعِيْدٌ شَرِيْفٌ جَلِيْلٌ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ. أَعُوْذُ بِااللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd. Marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya. Kita masih dianugerahi nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan untuk melaksanakan ibadah di hari yang mulia ini. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Besar Muhammad SAW, teladan terbaik bagi seluruh umat manusia.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamd. Kaum Muslimin yang dirahmati Allah. Pagi ini, saudara-saudara kita yang menunaikan ibadah haji sedang menyelesaikan rangkaian manasik di Tanah Suci. Mereka berasal dari berbagai penjuru dunia, dengan latar belakang yang beragam, namun bersatu dalam satu tujuan: memenuhi panggilan Allah dan mengesakan-Nya. Bagi kita yang belum berkesempatan haji, Idul Adha dan ibadah qurban menjadi jembatan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Ibadah qurban adalah salah satu ajaran penting dalam Islam yang memiliki sejarah panjang. Nabi Ibrahim AS dikenal sebagai pelopor ibadah ini melalui peristiwa pengorbanan Nabi Ismail AS. Kisah ini mengajarkan tentang keimanan, keikhlasan, ketaatan, dan kesabaran yang luar biasa dalam menjalankan perintah Allah. Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an surat As-Shaffat ayat 102:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Tatkala anak itu sampai umurnya dan sanggup berusaha bersamasama Ibrahim. Ibrahim berkata; Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu. Ia menjawab, wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan oleh Allah kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Kisah ini adalah ujian ketaatan Nabi Ibrahim kepada Allah SWT. Pengorbanan ini kemudian menjadi anjuran bagi umat Islam untuk menyembelih hewan qurban pada 10 Dzulhijjah dan hari Tasyrik. Keteguhan hati, keyakinan akan kebenaran perintah Allah, keikhlasan, ketaatan, dan kesabaran adalah esensi utama dari ibadah qurban. Nabi Ibrahim dan Ismail AS telah mengamalkan nilai-nilai ini dengan sempurna.

Kesanggupan Nabi Ibrahim AS menyembelih putranya bukan karena ketaatan buta, melainkan keyakinan teguh pada perintah Allah. Perintah ini juga menjadi pengingat bagi umat setelahnya, sanggupkah mereka mengorbankan diri, keluarga, dan harta benda demi menegakkan perintah Allah? Dan sanggupkah mereka memikul amanah sebagai khalifah Allah di muka bumi?

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd. Kaum Muslimin yang berbahagia. Dalam fiqih, qurban disebut udhhiyah, karena penyembelihan dilakukan saat matahari meninggi (dhuha). Ibn Qayyim al-Jauziyah memahami qurban sebagai tindakan menyembelih hewan ternak pada waktu dhuha untuk meraih kedekatan dan ridha Allah SWT. Binatang qurban adalah simbolisasi tadlhiyah (pengorbanan).

Baik udhhiyah maupun tadlhiyah, keduanya adalah ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jika menyembelih udhhiyah adalah ibadah material dan ritual, maka tadlhiyah di jalan Allah adalah ibadah keadaban yang memajukan kehidupan yang lebih luas. Dalam ibadah qurban, nilai terpenting adalah sikap batin berupa keikhlasan, ketaatan, dan kejujuran. Tindakan lahiriah penting, jika dilandasi niat tulus.

Setan sering menggoda kita agar tidak berqurban karena khawatir tidak ikhlas. Imam al Ghazali mengingatkan bahwa setan membisikkan, “Buat apa engkau beribadah kalau tidak ikhlas, lebih baik sekalian tidak beribadah.” Ibadah qurban bukan hanya tentang menyedekahkan daging, tapi yang utama adalah ketulusan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Allah SWT mengingatkan bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah fisik hewan qurban, melainkan takwa dan keikhlasan di hati.

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hajj ayat 37:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ

“Tidak akan sampai kepada Allah daging (hewan) itu, dan tidak pula darahnya, tetapi yang akan sampai kepada-Nya adalah takwa dari kamu”.

Penegasan ini menunjukkan dua hal penting. Pertama, qurban adalah simbol tradisi Nabi Ibrahim dan syiar Islam. Kedua, Allah hanya menerima nilai ketakwaan dari orang yang berqurban. Ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat bentuk luarmu dan harta bendamu, tetapi Dia melihat hatimu dan perbuatanmu.” (HR Bukhari dan Muslim).

Usaha mendekatkan diri kepada Allah melalui qurban harus kita lakukan terus-menerus. Islam adalah jalan menuju ridha Allah, dan qurban adalah salah satu perbuatan baik dalam perjalanan itu. Rasulullah SAW sendiri tidak pernah meninggalkan ibadah qurban setiap tahunnya, meskipun hidup dalam kesederhanaan.

Oleh karena itu, Muslim yang mampu berqurban namun tidak melaksanakannya dapat dikenakan sanksi sosial, yaitu diisolasi dari pergaulan Muslim. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang mempunyai kemampuan menyembelih hewan qurban tetapi tidak melaksanakannya, maka janganlah sekali-kali ia mendekati tempat shalat kita” (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Majah).

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd. Kaum Muslimin yang berbahagia. Ibadah qurban yang dilaksanakan dengan ikhlas akan mendatangkan hikmah dan manfaat di dunia maupun akhirat. Di antaranya:

  1. Meningkatkan keimanan kepada Allah SWT. Qurban melatih kepatuhan dan kepasrahan total kepada Allah. Mereka yang dekat dengan Allah akan meraih predikat muqarrabin, muttaqin, serta kemuliaan dan kebahagiaan hidup.
  2. Membersihkan diri dari sifat-sifat kebinatangan. Saat hewan qurban disembelih, sifat buruk seperti rakus, serakah, kejam, dan penindas harus ikut sirna dari diri kita.
  3. Menanamkan rasa kasih sayang dan empati kepada sesama. Islam mewajibkan pembagian daging qurban kepada fakir miskin agar mereka ikut menikmati. Ini menumbuhkan empati, semangat berbagi, dan ukhuwah islamiyah.
  4. Melatih kedermawanan. Pelaksanaan qurban setiap tahun membiasakan orang untuk berderma. Mengingat masih banyaknya penduduk miskin, qurban menjadi salah satu cara nyata untuk berbagi kebaikan.

Di akhir khutbah ini, marilah kita berdoa dengan penuh kekhusyukan. Semoga hidup kita terhindar dari segala keburukan yang menjerumuskan. Semoga Allah SWT menyatukan kita dalam kebenaran agama-Nya dan memberi kekuatan untuk mentaati perintah serta menjauhi larangan-Nya. Amin Ya Rabbal ‘Alamain.

Khutbah II

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ, اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ, اَللّٰهُ اَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَاِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ, وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللّٰهِ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ, وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ الْمَيَامِيْنِ, وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ, فَاُوصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاتَّقُوا اللّٰهَ تَعَالَى فِيْ هٰذَا الْيَوْمِ الْعَظِيْمِ, وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللّٰهَ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ عَظِيْمٍ, اَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلٰى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ الطَّيِّبِيْنَ, وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ, اَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍ, وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الصَّالِحِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ, وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ, اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُحِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ عِيْدَنَا هٰذَا سَعَادَةً وَتَلَاحُمًا, وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا, وَزِدْنَا فِيْهِ طُمَأْنِيْنَةً وَاُلْفَةً, وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً, وَاَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ وَالرَّحَمَاتِ, وَالْيُمْنِ وَالْبَرَكَاتِ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ شِيْمَتَنَا, وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا. اَللّٰهُمَّ اَدِمِ السَّعَادَةَ عَلَى وَطَنِنَا, وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِيْ بُيُوْتِنَا, وَاحْفَظْنَا فِيْ اَهْلِيْنَا وَاَرْحَامِنَا, وَاَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْاَبْرَارِ, يَا عَزِيْزُ يَا غَفَّارُ عِبَادَ اللّٰهِ, إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ, عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ

Memetik Pilar Islam Berkemajuan dari Kisah Nabi Ibrahim (Contoh Teks Khutbah)

Oleh: Prof Dr H Dadang Kahmad, MSi, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah (Tema Khutbah)

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي اَنْزَلَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَنُوْرًا وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِيْنَ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ.
اَمَّا بَعْدُ:
فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، اُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا اَللّٰهُ وَاَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اَلْحَمْدُ.

اَللّٰهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا.
لَا إِلَٰهَ إِلَّا اَللّٰهُ وَاَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اَلْحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah. Segala puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Atas rahmat dan karunia-Nya, kita bisa berkumpul pagi ini, menikmati hangatnya mentari dan segarnya udara. Sambil mengumandangkan takbir, tahmid, dan tahlil sebagai ekspresi mengagungkan Ilahi Rabbi. Kita juga melaksanakan shalat sunah Idul Adha sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah. Idul Adha adalah momen penting yang mengingatkan kita pada kisah pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Sebuah kisah luar biasa yang menyentuh hati dan jiwa. Peristiwa ini jarang bisa dilaksanakan oleh manusia biasa.

Ayah dan anak ini kompak menunjukkan ketundukan sempurna kepada Allah Rabb al-‘Alamin. Nabi Ibrahim menunjukkan keberanian luar biasa untuk menjalankan perintah Allah, meskipun itu berarti mengorbankan yang paling dicintai: anak kesayangannya. Di sisi lain, kita juga kagum pada Nabi Ismail AS yang menunjukkan ketaatan luar biasa kepada ayah dan Tuhannya, rela mengorbankan diri.

Kisah tersebut diabadikan Allah dalam Al-Qur’an surat As-Shaffat ayat 102:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Artinya: “Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?’ Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.’”

Nabi Ibrahim adalah figur ayah yang taat kepada Tuhan namun menghormati pendapat orang lain. Beliau berjiwa demokratis, mengajak musyawarah putranya untuk meminta pendapat. Begitu pula sang anak, memiliki keimanan tinggi dan menyatakan kesediaannya. Terjadilah harmoni dalam melaksanakan perintah Tuhan, menunjukkan tidak ada paksaan dalam beragama.

Kisah ini sangat menarik untuk diambil pelajaran penting dalam keberagamaan kita masa kini. Keberagamaan harus bertumpu pada kesadaran penuh akan nilai-nilai spiritual. Nabi Ibrahim adalah teladan keberagamaan yang tidak hanya menekankan ibadah ritual, tetapi juga keberanian moral, keikhlasan, dan kepatuhan teguh pada perintah Tuhan.

Oleh karena itu, pada kesempatan yang baik ini, khatib akan menyampaikan beberapa poin penting yang bisa kita petik sebagai ibrah dari kisah Nabi Ibrahim dan Ismail. Keberagamaan keduanya dapat dijadikan model keberagamaan Islam Berkemajuan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Yang pertama adalah keikhlasan dalam beribadah. Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa semua ibadah kita harus dilandasi keikhlasan. Tidak ada pamrih dalam beribadah, semata-mata hanya mencari ridha Allah SWT. Sebagaimana Firman Allah dalam surat Al-Bayyinah ayat 5:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Artinya: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

Ibrah yang kedua adalah keberanian menghadapi tantangan. Islam mengajarkan umatnya untuk terus bergerak maju, menghadapi segala tantangan dengan berani dan teguh hati. Nabi Ibrahim adalah contoh nyata pemimpin yang tidak gentar menjalani ujian Allah. Keikhlasan menyerahkan diri kepada Allah sambil mengerjakan kebaikan adalah agama yang lurus, mengikuti ajaran Nabi Ibrahim.

Allah SWT berfirman dalam surat An-Nisa’ ayat 125:

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.

Dan ibrah yang ketiga adalah semangat pembaruan (Tajdid). Keberagamaan yang diajarkan Nabi Ibrahim bukanlah yang stagnan. Beliau selalu mencari kebenaran dan berupaya mendekatkan diri pada Allah. Ini adalah semangat yang harus dihidupkan umat Islam untuk terus berkarya dan memberi manfaat kepada lingkungan, sebagaimana Ibrahim diuji dan diangkat menjadi imam bagi manusia.

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 124:

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim".

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Jamaah yang dirahmati Allah. Di era modern ini, semangat keberagamaan Nabi Ibrahim bisa menjadi panduan untuk melaksanakan Islam berkemajuan. Menghadapi berbagai tantangan, umat Islam harus memprioritaskan ketaatan kepada Allah, memperkuat ukhuwah (persaudaraan), dan memberi kontribusi positif kepada masyarakat.

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Mumtahanah ayat 6:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيهِمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ ۚ وَمَن يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah Dialah yang Maha kaya lagi Maha Terpuji.

Kisah Nabi Ibrahim mencerminkan kerelaan berkorban dan menjadikannya model iman, kesabaran, dan pengabdian. Tindakannya menginspirasi praktik dan kepercayaan Islam, mendorong orang beriman untuk menegakkan iman dengan ketulusan dan keberanian. Para ulama menekankan makna teologis, moral, dan spiritual kisah ini, menyoroti penyerahan tertinggi kepada Allah.

Tindakan Ibrahim dipandang sebagai contoh mendalam keyakinan dan tauhid (keesaan Tuhan) serta kepercayaan penuh pada kebijaksanaan ilahi. Pengorbanan ini sering ditafsirkan sebagai pelajaran memprioritaskan pengabdian kepada Allah di atas keterikatan duniawi. Para sarjana membahasnya sebagai panggilan untuk melepaskan “berhala pribadi” atau apa pun yang mengalihkan perhatian dari Allah.

Beberapa ulama merenungkan tantangan etika yang dihadapi Ibrahim, menekankan perjuangan internal dan keyakinan yang tak tergoyahkan. Ini menjadi pengingat bagi orang beriman menghadapi dilema moral dengan keberanian dan kepercayaan kepada Allah. Tindakan Ibrahim menjadi landasan ajaran Islam, menginspirasi ritual seperti qurban Idul Adha. Tindakan ini melambangkan rasa syukur, kerendahan hati, dan kesiapan berkorban demi kebaikan yang lebih besar.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Akhirnya saya mengajak hadirin mencontoh keimanan, ketakwaan, dan ketaatan kepada Allah yang melahirkan jiwa berani berkorban. Jadilah pribadi yang tidak egois dan mendahulukan musyawarah. Marilah kita manfaatkan sisa umur untuk berbuat baik, semoga menjadi umur yang dipenuhi kasih sayang dan barakah Allah.

Gunakan harta kita untuk kepentingan kebaikan dan meraih kesenangan abadi di akhirat. Jangan sampai kita menyesal kelak di alam keabadian. Untuk menguatkan keimanan aktif kita, marilah kita panjatkan doa kepada Allah SWT. Kita yakin doa ini akan diamini malaikat dan dikabulkan oleh Allah SWT.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ.
يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. اَللّٰهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

Meneladani Spirit Pengorbanan Nabi Ibrahim di Era Generasi Kini (Contoh Teks Khutbah)

Khutbah I

اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَتَمَّ لَنَا شَهْرَ الصِّيَامِ، وَأَعَانَنَا فِيْهِ عَلَى الْقِيَامِ، وَخَتَمَهُ لَنَا بِيَوْمٍ هُوَ مِنْ أَجَلِّ الْأَيَّامِ، وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، الْوَاحِدُ اْلأَحَدُ، أَهْلُ الْفَضْلِ وَاْلإِنْعَامِ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ إِلَى جَمِيْعِ اْلأَنَامِ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ التَّوْقِيْرِ وَاْلإِحْتِرَامِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Jamaah Idul Adha Rahimakumullah. Alhamdulillah, segala puji kita sanjungkan kehadirat Allah SWT. Karena Allah masih berkenan memberikan kesempatan kepada kita untuk menikmati bulan Dzulhijjah. Bulan ini adalah salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam, penuh berkah dan kesempatan memperbanyak ibadah. Sudah sepatutnya kita mengisi hari-hari ini dengan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah SWT, salah satunya dengan memperbanyak kumandang takbir, tahmid, dan tahlil.

الله اكبر الله اكبر الله اكبر ولله الحمد

Rasa syukur kita sempurnakan dengan menyembelih hewan qurban. Qurban adalah bentuk nyata pengabdian kita kepada-Nya dan upaya mendekatkan diri dalam setiap aspek kehidupan. Dengan mengekspresikan syukur melalui ibadah qurban, kita berharap meraih ridha Allah dan menjalani hidup penuh berkah dan rahmat-Nya.

Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلاً أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هِرَاقَةِ دَمٍ وَإِنَّهُ لَيَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَخْلاَفِهَا وَأَشْعَارِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا »

“Dari ‘Aisyah, Nabi SAW bersabda, "Tidaklah pada hari nahr manusia beramal suatu amalan yang lebih dicintai oleh Allah daripada mengalirkan darah dari hewan qurban. Ia akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, kuku, rambut hewan qurban tersebut. Dan sungguh, darah tersebut akan sampai kepada (ridha) Allah sebelum tetesan darah tersebut jatuh ke bumi, maka bersihkanlah jiwa kalian dengan berqurban." (HR. Ibnu Majah).

Dari hadits ini, kita paham bahwa berqurban pada hari Idul Adha adalah amalan paling dicintai Allah. Qurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi simbol pengorbanan diri tulus kepada Allah, menunjukkan keikhlasan dan niat murni. Darah hewan qurban yang diterima Allah sebelum jatuh ke bumi menandakan betapa dihargainya ibadah ini dan kedekatan hamba dengan Tuhannya.

Berqurban juga membersihkan jiwa, meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, serta mengajarkan kepedulian sosial dengan berbagi daging kepada fakir miskin. Hewan qurban yang datang pada hari kiamat menjadi bukti pahala berlipat ganda yang kita terima.

Jamaah Idul Adha Rahimakumullah. Di Hari Raya Idul Adha, kita disunnahkan memotong hewan qurban seperti unta, sapi, kerbau, atau domba pada tanggal 10, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Secara lahiriah kita menyembelih hewan qurban, namun hakikatnya kita harus “menyembelih” segala bentuk kecintaan duniawi yang mengurangi bahkan menghalangi kadar cinta kita kepada Allah. Ketika cinta duniawi melebihi cinta kepada Allah, seseorang bisa menjadi serakah, menghalalkan segala cara, zalim, dan menindas orang lain. Ibadah qurban melatih diri agar tidak terperangkap cinta dunia.

Karenanya, bagi yang mampu, mari berqurban karena Allah. Bukan daging dan darahnya yang sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan kita yang akan meraih keridhaan-Nya. Allah SWT berfirman:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-Hajj:37).

الله اكبر الله اكبر الله اكبر ولله الحمد

Jamaah Idul Adha Rahimakumullah. Idul Adha adalah ritual keagamaan kaya makna simbolis dan metaforis, sepatutnya ditafsirkan dalam konteks nilai universal Islam. Banyak pesan dan pelajaran penting dari ibadah qurban ini. Salah satunya adalah keberhasilan Nabi Ibrahim AS dan Siti Hajar AS dalam mendapatkan, mendidik, dan mengasuh anak mereka, Ismail AS, menjadi generasi kuat nan tangguh. Mari hayati sejenak ayat berikut:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; in syaa Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar."

Hadirin, mari kita bahas sedikit tentang pola asuh Nabi Ibrahim dalam mendidik putranya. Perhatikan redaksi:

يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ

“Wahai anakku, aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, bagaimana pendapatmu?”

Nabi Ibrahim melibatkan putranya dalam musyawarah memecahkan persoalan pelik, padahal Ismail baru 13 tahun. Ini menunjukkan betapa Ibrahim menyadari pentingnya mempersiapkan anaknya menghadapi kenyataan hidup yang tidak selalu mudah. Melibatkan Ismail dalam diskusi perintah Allah mengajarkan bahwa hidup penuh tantangan yang memerlukan keberanian, kesabaran, dan keimanan kuat. Anak-anak yang diberi ruang berpartisipasi dalam diskusi akan terpupuk rasa tanggung jawab dan mengembangkan keterampilan problem-solving serta ketahanan mental.

Dengan komunikasi terbuka dan saling percaya antara orang tua dan anak, mereka merasa didengarkan dan dihargai. Mereka akan lebih percaya diri dan siap menghadapi situasi sulit. Mereka tidak akan mudah rapuh seperti stroberi, melainkan tumbuh menjadi individu kuat dan tangguh. Pola asuh demokratis ala Nabi Ibrahim AS adalah cermin teladan dalam kehidupan kita.

Pola asuh ini sangat relevan menghadapi fenomena “generasi stroberi”. Istilah ini menggambarkan generasi muda yang tumbuh dalam kemakmuran, dianggap rapuh mental dan emosional. Mereka cerdas lahiriah, namun rentan tekanan, kurang tahan banting, dan mudah kewalahan. Mereka sensitif kritik dan mengutamakan keseimbangan kerja-pribadi.

Kelemahan utama mereka adalah ketidakmampuan menghadapi kesulitan hidup, disebabkan pola asuh terlalu protektif. Ketergantungan pada teknologi dan media sosial juga memperburuk perasaan rentan dan stres.

Jamaah Idul Adha Rahimakumullah. Karena itu, marilah kita meneladani pola asuh demokratis ala Nabi Ibrahim. Mendidik anak bukan hanya memberi pengetahuan, tapi juga kemampuan menghadapi kerasnya hidup. Anak-anak harus dipersiapkan menjadi generasi tangguh, memiliki mental resilient (kembali pulih setelah kesulitan), dan siap menghadapi tantangan hidup. Ini pelajaran berharga menghindari fenomena generasi stroberi dan membentuk generasi yang kuat.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

Khutban II

اَللَّهُ أَكْبَرُ اَللَّهُ أَكْبَرُ اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ اَللَّهُ أَكْبَرُ اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَيَامِيْنِ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ، فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاتَّقُوا اللهَ تَعَالَى فِيْ هٰذَا الْيَوْمِ الْعَظِيْمِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الطَّيِّبِيْنَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الصَّالِحِيْنَ، اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُحِيْبُ الدَّعَوَاتِ، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ عِيْدَنَا هٰذَا سَعَادَةً وَتَلاَحُمًا، وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا، وَزِدْنَا فِيْهِ طُمَأْنِيْنَةً وَأُلْفَةً، وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ وَالرَّحَمَاتِ، وَالْيُمْنِ وَالْبَرَكَاتِ اَللّٰهُمَّ اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ شِيْمَتَنَا، وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا، اَللّٰهُمَّ أَدِمِ السَّعَادَةَ عَلَى وَطَنِنَا، وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِيْ بُيُوْتِنَا، وَاحْفَظْنَا فِيْ أَهْلِيْنَا وَأَرْحَامِنَا، وَأَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ اْلأَبْرَارِ، يَا عَزِيْزُ يَا غَفَّارُ عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ

Semoga contoh-contoh khutbah ini bisa memberikan inspirasi bagi para khatib dan seluruh umat Muslim dalam menyambut Hari Raya Idul Adha 1446 H. Mari jadikan momen ini untuk memperkuat keimanan, ketakwaan, dan semangat berbagi.

Bagaimana menurut kamu? Ada tema khutbah lain yang menarik untuk Idul Adha tahun ini? Yuk, bagikan pendapatmu di kolom komentar!

Posting Komentar