Lagi Galau? Ini Drakor Coming of Age Mirip Twenty Five Twenty One, Dijamin Bikin Semangat!
Siapa sih yang belum bisa move on dari Twenty Five Twenty One? Drama yang dibintangi Kim Tae Ri dan Nam Joo Hyuk ini memang sukses banget bikin hati penonton dag dig dug dan nostalgia. Bukan cuma kisah cintanya yang bikin baper, tapi drama ini juga dalem banget bahas soal perjuangan meraih mimpi di tengah cobaan, pahit manisnya persahabatan, dan gimana rasanya jadi anak muda yang lagi nyari jati diri. Twenty Five Twenty One tuh kayak permata di genre coming of age, ngasih liat pergolakan batin pas kita transisi dari remaja ke dewasa.
Kalau kamu kangen sama vibe drama yang relate sama perjuangan, mimpi, dan realita hidup di usia belasan akhir sampai awal dua puluhan, tenang aja, kamu nggak sendirian! Ada banyak drakor lain yang punya esensi serupa, siap bikin kamu senyum-senyum sendiri, galau (dikit!), dan yang paling penting, termotivasi buat ngejar impianmu. Drama-drama ini bakal ngingetin kamu lagi sama masa-masa penuh pencarian, di mana setiap keputusan terasa krusial dan setiap pengalaman membentuk siapa kita. Yuk, langsung intip rekomendasinya!
1. Reply 1988 (2015): Nostalgia, Persahabatan, dan Kehangatan Keluarga¶
Kalau ngomongin drakor coming of age yang berlatar di era lawas dan punya vibe hangat kayak Twenty Five Twenty One, Reply 1988 udah pasti masuk daftar teratas. Drama ini ngajak kita balik ke tahun 1988, ngeliat kehidupan lima sekawan yang tinggal di lingkungan yang sama di Distrik Ssangmun, Seoul. Mereka tumbuh bareng, berbagi suka duka, dan saling mendukung dalam segala hal.
Ceritanya fokus banget sama hubungan antar-manusia: kuatnya ikatan persahabatan yang udah terjalin sejak kecil, hangatnya kasih sayang keluarga dengan segala dramanya, dan manisnya cinta pertama yang malu-malu. Kita bakal ngikutin perjalanan Deok Sun, Jung Hwan, Taek, Dong Ryong, dan Sun Woo dalam menghadapi masalah remaja, perselisihan keluarga, pilihan masa depan, sampai dilema cinta segitiga yang bikin gregetan.
Kenapa mirip Twenty Five Twenty One? Keduanya sama-sama berhasil nangkap esensi perjuangan di usia muda dalam konteks waktu tertentu (akhir 90-an vs akhir 80-an). Karakter-karakternya sangat relate, mereka bukan sosok sempurna, punya kekurangan, tapi terus berusaha jadi lebih baik. Drama ini nunjukkin gimana lingkungan dan orang-orang di sekitar kita (keluarga, teman) punya peran penting banget dalam proses pertumbuhan. Humornya yang segar, dialog-dialognya yang jujur, dan adegan-adegan emosionalnya sukses bikin penonton ketawa dan nangis dalam waktu bersamaan. Reply 1988 adalah bukti bahwa kisah sehari-hari, kalau dikemas dengan hati, bisa jadi sesuatu yang luar biasa dan membekas.
Setiap karakter di Reply 1988 punya cerita dan perjuangan uniknya sendiri. Deok Sun si satu-satunya cewek di geng yang sering merasa diabaikan di rumah tapi punya hati yang tulus. Jung Hwan yang cuek tapi perhatian dan diem-diem menyimpan rasa. Taek si jenius baduk yang polos dan hanya tahu dunianya. Dong Ryong si pembuat suasana yang selalu punya celotehan lucu dan nasihat nyelip. Sun Woo si anak baik yang berbakti pada ibu dan adiknya. Melihat mereka melewati fase-fase penting dalam hidup, dari masa SMA sampai masuk kuliah dan mulai mikirin karier, itu beneran bikin kita flashback ke masa muda kita sendiri.
Drama ini juga pinter banget nggambarin dinamika keluarga. Tiap keluarga di Gang Ssangmun punya cara mendidik anak yang beda, masalah finansial yang beda, tapi satu kesamaan: cinta yang besar. Kita diajak ngeliat gimana orang tua berjuang buat anak-anaknya, gimana anak-anak kadang salah paham sama orang tua, tapi akhirnya sadar betapa berharganya ikatan darah itu. Ini ngasih pelajaran berharga tentang pentingnya komunikasi dan pengertian dalam keluarga, sesuatu yang juga dihadapi karakter-karakter di Twenty Five Twenty One.
Selain itu, Reply 1988 jago banget membangun atmosfer nostalgia. Musik, fashion, acara TV, sampai peristiwa-peristiwa penting di tahun 1988 Korea Selatan dihadirkan dengan detail. Ini bukan cuma sekadar latar, tapi jadi bagian penting dari cerita, ngasih konteks sosial dan budaya yang bikin kita makin hanyut. Sama seperti Twenty Five Twenty One yang ngasih liat gimana suasana akhir 90-an sampai awal 2000-an, lengkap dengan krisis ekonomi dan perubahan sosial. Keduanya sukses bikin penonton bernostalgia, nggak peduli kamu lahir di era 80-an, 90-an, atau bahkan 2000-an awal. Ada rasa kehangatan dan kerinduan pada masa lalu yang universal.
Drama ini mengajarkan bahwa proses coming of age itu bukan cuma soal menemukan cinta atau meraih impian besar, tapi juga tentang belajar menerima diri sendiri, menghadapi kekecewaan, dan menyadari bahwa kebahagiaan seringkali datang dari hal-hal sederhana di sekitar kita, seperti sepiring ramyeon hangat buatan ibu atau kumpul bareng teman-teman di depan gang. Reply 1988 adalah tontonan yang nyaman dan penuh makna, pas banget buat kamu yang lagi butuh ‘pelukan’ dari drama setelah tamat nonton Twenty Five Twenty One.
2. Our Beloved Summer (2021): Rumitnya Cinta Pertama yang Bertemu Kembali¶
Kalau kamu suka elemen cinta pertama yang bersemi di bangku sekolah dan ngikutin perkembangannya sampai karakter-karakternya dewasa, Our Beloved Summer pasti bakal nyantol di hati. Drama ini ceritain kisah Choi Ung dan Kook Yeon Su, dua mantan pacar yang super beda sifatnya. Choi Ung itu seniman ilustrator yang easygoing dan agak kekanakan, sementara Yeon Su itu cewek ambisius dan realistis banget. Mereka pacaran pas SMA gara-gara terlibat proyek dokumenter sekolah, putus dengan cara yang nggak baik, dan nggak sengaja ketemu lagi bertahun-tahun kemudian karena dokumenter mereka dulu viral!
Mirip sama Twenty Five Twenty One, drama ini ngasih liat dinamika hubungan yang rumit, di mana cinta pertama punya jejak yang dalam, bahkan setelah berpisah. Kita diajak ngeliat flashback ke masa SMA mereka (dengan gaya visual yang beda, kayak dokumenter betulan) dan ngikutin gimana mereka yang udah dewasa harus berinteraksi lagi, menghadapi unresolved feelings, dan menyadari bahwa mereka udah banyak berubah (atau mungkin nggak banyak berubah sama sekali?).
Elemen coming of age di sini tuh terasa pas mereka dewasa dan harus menavigasi karier, ambisi, dan cara mereka menghadapi masa lalu yang ternyata masih membayangi. Perjuangan Choi Ung sebagai seniman dan Yeon Su sebagai produser dokumenter juga relate banget sama usaha meraih impian di bidang kreatif, mirip kayak Na Hee Do yang mati-matian jadi atlet anggar di Twenty Five Twenty One.
Yang bikin drama ini makin menarik adalah strukturnya yang unik, campur aduk antara narasi utama di masa kini dan flashback dalam format dokumenter. Ini ngasih perspektif yang beda, mirip kayak Twenty Five Twenty One yang pakai sudut pandang Na Hee Do di masa depan yang membaca diary-nya di masa lalu. Dua-duanya pakai device naratif yang bikin penonton ikutan ‘nyelam’ ke dalam kenangan karakter utamanya.
Our Beloved Summer juga jago banget nggambarin kerumitan hubungan asmara di usia 20-an akhir atau awal 30-an. Pasangan ini harus belajar komunikasi yang lebih baik, menghadapi ketidakamanan diri, dan memutuskan apakah cinta mereka masih layak diperjuangkan setelah luka di masa lalu. Ini adalah fase coming of age yang beda dari Twenty Five Twenty One yang lebih fokus ke awal 20-an, tapi sama-sama penting dan relate buat banyak orang. Belajar dari kesalahan masa lalu, memahami diri sendiri dan pasangan, serta tumbuh bersama meskipun dengan langkah yang tertatih-tatih.
Drama ini juga punya soundtrack yang ikonik banget dan cinematography yang bikin mata adem. Suasana musim panasnya terasa hangat dan melancholy, pas banget sama mood ceritanya. Karakter pendukungnya, seperti NJ si idola K-Pop yang naksir Choi Ung dan Kim Ji Woong si sutradara dokumenter yang diam-diam memendam perasaan, juga ngasih warna dan dinamika tambahan pada cerita. Mereka juga punya arc pertumbuhan mereka sendiri lho, menunjukkan bahwa proses coming of age itu dialami semua orang, dengan caranya masing-masing.
Kalau kamu suka kisah cinta yang realistis, nggak melulu manis, tapi juga nunjukkin susahnya mempertahankan dan memperbaiki hubungan, serta suka sama cerita yang nggambarin perjuangan meraih mimpi di bidang kreatif, Our Beloved Summer adalah pilihan yang pas banget. Drama ini bakal ngingetin kamu bahwa cinta pertama bisa jadi pelajaran berharga, dan proses tumbuh dewasa itu terus berlanjut, bahkan setelah kita pikir kita sudah menemukan jati diri.
3. My Liberation Notes (2022): Mencari Arti Hidup di Usia 30-an¶
Nah, kalau Twenty Five Twenty One nggambarin kegalauan dan perjuangan di usia 20-an awal yang penuh semangat tapi juga ketidakpastian, My Liberation Notes ngangkat tema yang serupa tapi di fase kehidupan yang beda: usia 30-an. Ini bukan drama yang pace-nya cepet atau penuh plot twist mendebarkan, justru drama ini cenderung lambat, introspektif, dan sangat realistis. Tapi jangan salah, kedalamannya tuh luar biasa!
Drama ini ceritain tiga bersaudara (Mi Jeong, Chang Hee, Ki Jeong) yang tinggal di desa pinggiran Seoul dan tiap hari harus menempuh perjalanan jauh buat kerja di kota. Mereka merasa hidupnya gitu-gitu aja, terjebak rutinitas, dan ngerasa stuck. Mi Jeong yang paling muda introvert dan ngerasa kesepian, Chang Hee yang tengah realistis tapi sering ngerasa gagal, dan Ki Jeong yang paling tua desperately nyari cinta sebelum usianya makin nambah. Mereka semua pengen “membebaskan diri” dari kejenuhan, ekspektasi sosial, dan rasa nggak bahagia yang mereka rasain.
Di tengah keputusasaan itu, muncul sosok misterius bernama Mr. Gu, seorang laki-laki pendiam yang bekerja di perusahaan ayahnya mereka. Mi Jeong mulai menjalin hubungan yang nggak biasa sama Mr. Gu, yang dia sebut sebagai proses “memuja” (worship) untuk keluar dari kehidupannya yang suram.
Kenapa drama ini relate sama Twenty Five Twenty One dalam konteks coming of age? Keduanya bahas soal pencarian jati diri dan arti kebahagiaan, tapi di fase hidup yang beda. Kalau Na Hee Do dan Baek Yi Jin nyari jati diri lewat impian besar dan bertahan di tengah kesulitan, tiga bersaudara Yeom nyari jati diri lewat penerimaan diri, belajar mencintai ketidaksempurnaan, dan menemukan momen-momen kecil yang bikin hidup terasa berharga. Ini nunjukkin bahwa proses coming of age itu nggak berhenti di usia 20-an, tapi terus berlanjut seiring kita dewasa, menghadapi tantangan hidup yang makin kompleks.
My Liberation Notes sangat jujur nggambarin perasaan burnout, kesepian, dan perjuangan untuk menemukan makna di tengah kehidupan modern yang serba menuntut. Dialog-dialognya puitis, filosofis, dan kadang menusuk. Drama ini mengajak kita buat merenung: apa sih arti kebahagiaan? Gimana caranya kita bisa merasa bebas dan nggak terjebak sama ekspektasi orang lain atau bahkan ekspektasi kita sendiri? Ini tema yang universal dan pasti pernah dirasain sama banyak orang, nggak cuma di usia 30-an.
Meskipun temanya berat, drama ini juga punya momen-momen hangat, terutama pas nampilin interaksi antar-saudara dan hubungan mereka sama orang tua. Ada juga sentuhan romantis yang nggak biasa dan bikin penasaran antara Mi Jeong dan Mr. Gu. My Liberation Notes itu kayak secangkir kopi pahit di pagi hari; awalnya mungkin terasa berat, tapi setelah dinikmati, ninggalin rasa yang mendalam dan bikin kita mikir.
Drama ini cocok banget buat kamu yang lagi ngerasa stuck, burnout, atau sekadar pengen nonton drama yang bikin mikir dan ngerasa nggak sendirian dalam menghadapi kegalauan hidup. My Liberation Notes ngasih liat bahwa proses coming of age itu nggak cuma soal masa muda yang penuh semangat, tapi juga soal menerima kenyataan, belajar mencintai proses, dan terus mencari ‘pembebasan’ diri di setiap tahap kehidupan. Sama seperti Twenty Five Twenty One yang nunjukkin kalau jatuh bangun itu wajar, My Liberation Notes bilang kalau ngerasa lost di usia dewasa itu juga normal, dan yang penting adalah terus melangkah.
Lebih Dari Sekadar Drama¶
Ketiga drama ini, sama seperti Twenty Five Twenty One, menawarkan lebih dari sekadar hiburan romantis. Mereka adalah cermin yang nunjukkin berbagai sisi dari proses coming of age: dari manis pahitnya cinta pertama dan persahabatan di masa sekolah (Reply 1988, Our Beloved Summer), perjuangan keras meraih impian di tengah keterbatasan (Twenty Five Twenty One, Our Beloved Summer), sampai pencarian makna hidup dan kebahagiaan di usia dewasa yang penuh tantangan (My Liberation Notes).
Mereka semua punya karakter-karakter yang relate, cerita yang menyentuh, dan pelajaran hidup yang bisa kita ambil. Nonton drama-drama ini tuh kayak diajak ngobrol sama teman lama yang ngertiin perjuangan kita. Mereka ngingetin kita bahwa kegalauan itu wajar, jatuh itu pasti, tapi yang penting adalah gimana kita bangun lagi dan terus berjalan.
Jadi, kalau kamu lagi kangen sama vibe Twenty Five Twenty One atau sekadar butuh tontonan yang bisa bikin semangat dan merenung, coba deh tonton salah satu (atau ketiganya!) rekomendasi di atas. Siapa tahu, kamu bakal nemuin semangat baru atau insight penting tentang dirimu sendiri setelah nonton.
Gimana? Ada drama lain yang menurutmu mirip Twenty Five Twenty One dan nggak kalah seru? Yuk, share rekomendasi atau pendapatmu di kolom komentar di bawah! Kita diskusi bareng tentang drakor coming of age favoritmu!
Posting Komentar