22 Juli 2025: Kalender Hijriah, Jadwal Penting & Mitos Bulan Safar

Table of Contents

Hai, teman-teman Muslim! Pasti kita semua sepakat kalau kalender Hijriah itu penting banget dalam kehidupan kita sehari-hari, apalagi buat menjalankan ibadah. Mulai dari menentukan jadwal puasa sunnah, merayakan hari raya besar, sampai memperingati momen-momen bersejarah dalam Islam, semuanya berpatokan pada kalender Hijriah. Nah, kali ini kita bakal kupas tuntas konversi kalender Hijriah untuk tanggal 22 Juli 2025, lengkap dengan jadwal penting di bulan Safar, dan yang paling menarik, kita akan bongkar mitos seputar bulan Safar yang sering banget salah dipahami! Yuk, simak sampai habis biar informasinya lengkap di kepala.

22 Juli 2025 Kalender Hijriah

Perbedaan Kalender Hijriah dan Masehi: Kenapa Sering Beda?

Pernah bertanya-tanya nggak, kenapa kalender Hijriah dan Masehi itu hitungannya beda jauh? Jawabannya sederhana, sistem penanggalan keduanya didasarkan pada perhitungan yang berbeda, yaitu peredaran benda langit. Kalender Hijriah, atau sering juga disebut kalender Islam, sepenuhnya bergantung pada peredaran Bulan mengelilingi Bumi. Sistem ini dikenal sebagai kalender lunar atau qomariyah, yang perputarannya mengikuti siklus sinodik Bulan.

Satu siklus sinodik Bulan ini berlangsung sekitar 29 hari 12 jam 44 menit, yang biasanya dibulatkan menjadi 29,5 hari. Artinya, dalam satu tahun Hijriah, durasinya minimal adalah 354 hari. Ini jauh berbeda dengan kalender Masehi, yang sering kita sebut kalender Gregorian atau Syamsiyah. Kalender Masehi mematok hitungannya berdasarkan peredaran Bumi mengelilingi Matahari, mengikuti siklus tropis Matahari yang berdurasi sekitar 365 hari 5 jam 48 menit.

Perbedaan mendasar lainnya antara kalender Hijriah dan Masehi adalah waktu pergantian harinya. Kalau kalender Masehi berganti hari pas pukul 00.00 malam, beda banget dengan kalender Hijriah. Pergantian hari dalam kalender Hijriah itu terjadi saat Matahari terbenam atau waktu maghrib tiba. Nah, karena perbedaan inilah, kadang kita jadi suka bingung menentukan tanggal Hijriah yang tepat di tanggal Masehi tertentu.

Makanya, penting banget buat kita tahu konversi kalender Hijriah secara akurat, apalagi kalau mau merencanakan ibadah atau acara penting. Terkadang, perbedaan satu hari saja bisa sangat berarti, terutama dalam penetapan awal bulan hijriah. Yuk, kita lihat gimana sih tanggal 22 Juli 2025 itu kalau dikonversi ke kalender Hijriah menurut berbagai lembaga Islam di Indonesia!

Tanggal Hijriah Hari Ini: 22 Juli 2025 dalam Berbagai Versi

Menentukan tanggal Hijriah kadang memang bikin dahi berkerut, apalagi kalau ada perbedaan pandangan dari berbagai pihak. Di Indonesia sendiri, kita mengenal setidaknya tiga rujukan utama: Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan Pemerintah (Kementerian Agama). Mari kita bedah satu per satu konversi tanggal 22 Juli 2025 menurut ketiga lembaga ini.

Tanggal Hijriah 22 Juli 2025 Menurut NU

Nahdlatul Ulama, sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, menetapkan awal bulan Hijriah berdasarkan metode rukyatul hilal atau pengamatan hilal secara langsung. Ini artinya, NU baru akan menentukan awal bulan setelah hilal (bulan sabit muda) berhasil terlihat setelah Matahari terbenam. Jika hilal tidak terlihat, maka bulan yang sedang berjalan akan di-istikmal-kan, atau digenapkan menjadi 30 hari.

Secara resmi, NU telah mengumumkan bahwa tahun baru Hijriah 1447 H jatuh pada Jumat Kliwon, 27 Juni 2025. Keputusan ini diambil setelah pengamatan pada Rabu, 25 Juni 2025, menunjukkan hilal masih berada di bawah ufuk di seluruh wilayah Indonesia. Penetapan ini tercantum jelas dalam Surat Keputusan Nomor: 76/PB.08/A.II.01.13/13/06/2025 dari Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Artinya, 1 Muharram 1447 H sudah dimulai sejak Kamis malam, 26 Juni 2025. Dengan demikian, jika mengikuti perhitungan NU, tanggal 22 Juli 2025 ini bertepatan dengan 26 Muharram 1447 H.

Tanggal Hijriah 22 Juli 2025 Menurut Muhammadiyah

Berbeda dengan NU yang mengedepankan rukyatul hilal, Muhammadiyah cenderung menggunakan metode hisab hakiki, yaitu perhitungan astronomi secara matematis. Muhammadiyah juga telah resmi menetapkan awal 1 Muharram 1447 H pada Kamis, 26 Juni 2025. Penetapan ini didasarkan pada penggunaan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang mengadopsi kriteria imkanur-rukyat (kemungkinan terlihatnya hilal) dan ijtima’ (konjungsi Bulan dan Matahari).

KHGT sendiri adalah inisiatif global yang mulai secara resmi digunakan oleh Muhammadiyah per 1 Muharram 1447 H. Harapannya, kalender ini bisa menjadi rujukan tunggal bagi seluruh umat Islam di dunia, sehingga tidak ada lagi perbedaan dalam penetapan awal bulan. Dengan demikian, berdasarkan perhitungan Muhammadiyah, tanggal 22 Juli 2025 bertepatan dengan 27 Muharram 1447 H. Ini menunjukkan perbedaan satu hari dengan versi NU.

Tanggal Hijriah 22 Juli 2025 Menurut Pemerintah

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Agama, juga memiliki kalender Hijriah resmi yang sering dijadikan acuan. Biasanya, pemerintah menggunakan kombinasi metode rukyatul hilal dan hisab dalam penentuan awal bulan, serta mempertimbangkan hasil sidang isbat yang melibatkan berbagai pihak. Untuk tahun 2025, Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2025 yang dirilis oleh Kementerian Agama menunjukkan bahwa 1 Muharram 1447 H jatuh pada Jumat, 27 Juni 2025.

Penetapan ini senada dengan hasil pengamatan Tim Falakiyah Kantor Wilayah Kementerian Agama Aceh. Mereka menyatakan bahwa hilal tidak mungkin terlihat pada tanggal 25 Juni 2025 karena posisi hilal yang terlalu rendah dan terhalang oleh sinar Matahari yang masih terang. Oleh karena itu, bulan Dzulhijjah 1446 H di-istikmal-kan menjadi 30 hari. Dengan demikian, 1 Muharram 1447 H ditetapkan jatuh pada tanggal 27 Juni 2025. Berdasarkan acuan pemerintah, tanggal 22 Juli 2025 bertepatan dengan 26 Muharram 1447 H.

Kesimpulan Konversi Tanggal 22 Juli 2025

Nah, setelah melihat penjelasan dari ketiga lembaga di atas, bisa kita simpulkan bahwa:
* Menurut NU dan Pemerintah, Selasa, 22 Juli 2025, bertepatan dengan 26 Muharram 1447 H.
* Sementara itu, jika mengikuti tanggalan Muhammadiyah, 22 Juli 2025 bertepatan dengan 27 Muharram 1447 H.

Perbedaan satu hari ini wajar terjadi karena perbedaan metode yang digunakan dalam penentuan awal bulan. Penting bagi kita untuk memahami metode masing-masing agar tidak bingung dalam beribadah atau merencanakan sesuatu.

Untuk memudahkan pemahaman, berikut tabel ringkasan konversi tanggal 22 Juli 2025:

Lembaga Penentu Metode Penetapan 1 Muharram 1447 H Tanggal Hijriah 22 Juli 2025
NU Rukyatul Hilal Jumat Kliwon, 27 Juni 2025 (mulai malam Jumat, 26 Juni) 26 Muharram 1447 H
Muhammadiyah Hisab (KHGT) Kamis, 26 Juni 2025 27 Muharram 1447 H
Pemerintah (Kemenag) Rukyatul Hilal & Hisab (Sidang Isbat) Jumat, 27 Juni 2025 26 Muharram 1447 H

Tabel ini bisa jadi panduan cepat buat kamu yang butuh konfirmasi tanggal Hijriah. Mengapa penting mengetahui perbedaan ini? Karena beberapa ibadah sunnah seperti puasa Arafah atau Tasu’a-Asyura bisa jadi berbeda tanggal pelaksanaannya tergantung acuan yang kamu ikuti. Memahami perbedaan ini akan membuat kita lebih bijak dalam memilih atau mengikuti pendapat yang kita yakini.

Jadwal Penting di Bulan Safar 2025/1447 H

Tak terasa, bulan Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah akan segera berakhir. Setelah Muharram, kita akan menyambut bulan kedua, yaitu bulan Safar. Bulan Safar ini seringkali luput dari perhatian, padahal ada beberapa hal menarik yang perlu kita tahu tentang bulan ini. Lantas, tanggal berapa sih 1 Safar 1447 H akan dimulai?

Menurut Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2025 yang diterbitkan oleh Kementerian Agama, 1 Safar 1447 H diperkirakan jatuh pada Sabtu, 26 Juli 2025. Ingat, ya, karena pergantian hari Hijriah dimulai saat Matahari terbenam, maka secara de facto, 1 Safar sejatinya sudah dimulai sejak Jumat malam, 25 Juli 2025, tepatnya setelah waktu maghrib. Jadi, begitu Jumat sore menjelang maghrib, kita sudah masuk ke malam 1 Safar.

Keterangan yang senada juga ditemukan dalam Almanak 2025 dari NU. Almanak ini disusun dengan metode hisab dan menjelaskan bahwa 1 Safar 1447 H bertepatan dengan Sabtu Wage, 26 Juli 2025. Ini menunjukkan konsistensi antara pemerintah dan NU dalam penetapan awal bulan Safar, meskipun ada perbedaan dalam penetapan awal Muharram. Hal ini bisa terjadi karena kriteria hilal untuk Safar mungkin sudah memenuhi standar rukyah atau hisab yang sama bagi kedua pihak.

Bagaimana dengan Muhammadiyah? Meskipun mereka memulai Muharram pada tanggal yang berbeda, ternyata penetapan 1 Safar 1447 H versi Muhammadiyah dalam Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) mereka juga jatuh pada hari yang sama, yaitu Sabtu, 26 Juli 2025. Namun, ada sedikit perbedaan durasi bulan Safar. Menurut Muhammadiyah, bulan Safar akan berlangsung selama 29 hari, sedangkan pemerintah dan NU biasanya menetapkan Safar selama 30 hari. Perbedaan durasi ini akan mempengaruhi awal bulan berikutnya, Rabiul Awal.

Jadi, secara umum, seluruh lembaga sepakat bahwa 1 Safar 1447 H akan dimulai pada Sabtu, 26 Juli 2025 (atau Jumat malam, 25 Juli 2025). Ini penting untuk diketahui agar kita bisa mempersiapkan diri jika ada tradisi atau amalan khusus di awal bulan Safar. Meskipun tidak ada amalan yang wajib dilakukan secara khusus di bulan Safar, bulan ini tetap bagian dari bulan-bulan mulia dalam Islam yang bisa kita manfaatkan untuk meningkatkan ibadah dan kebaikan.

Mitos Sial Bulan Safar: Benarkah Demikian?

Nah, ini dia bagian yang paling menarik dan sering menimbulkan perdebatan: mitos seputar bulan Safar. Sejak zaman dahulu, bahkan jauh sebelum Islam datang, bulan Safar sering dianggap sebagai bulan yang membawa kesialan atau musibah. Anggapan ini tidak hanya populer di masyarakat Arab Saudi kuno, tetapi juga merambah ke berbagai budaya, termasuk di Indonesia. Banyak orang yang menghindari bepergian jauh, menikah, atau memulai usaha baru di bulan Safar karena khawatir akan tertimpa nasib buruk.

Tapi, bagaimana sebenarnya Islam menyikapi anggapan ini? Apakah benar bulan Safar itu bulan sial? Jawabannya tidak. Islam dengan tegas membantah keyakinan tentang bulan sial atau hari sial. Rasulullah SAW sendiri telah menegaskan hal ini dalam banyak sabdanya, salah satunya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.

Salah satu hadits yang sangat relevan dan sering dikutip untuk menepis mitos ini berbunyi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَّةَ وَلَا صَفَرَ

Artinya: “Tidak ada penyakit menular dan thiyarah (merasa sial dengan burung dan sejenisnya) dan hamah (burung gagak) dan Safar.” (HR Bukhari no 5757 dan Muslim no 2220).

Mari kita bedah hadits ini satu per satu.
* La `Adwa (لا عدوى): Artinya “Tidak ada penyakit menular (dengan sendirinya)”. Islam mengajarkan bahwa penyakit menular itu ada, tetapi penularannya terjadi atas izin Allah, bukan karena sifat penyakit itu sendiri yang otomatis menular. Ini menolak kepercayaan bahwa penyakit bisa menular tanpa kehendak Allah.
* Wa La Thiyarah (ولا طيرة): Artinya “Tidak ada thiyarah.” Thiyarah adalah keyakinan akan pertanda buruk atau sial, misalnya melihat burung tertentu atau mendengar suara binatang tertentu lalu menganggapnya sebagai isyarat akan datangnya musibah. Rasulullah SAW menolak anggapan ini karena semua kejadian ada dalam kekuasaan Allah.
* Wa La Hamah (ولا هامة): Artinya “Tidak ada hamah.” Hamah adalah kepercayaan Arab jahiliah bahwa jiwa orang yang terbunuh dan belum dibalaskan dendamnya akan berubah menjadi burung hantu yang terus berteriak. Atau juga bisa berarti menganggap burung hantu sebagai pembawa pertanda buruk.
* Wa La Safar (ولا صفر): Dan “Tidak ada (kesialan pada) bulan Safar.” Kata ‘Safar’ dalam hadits ini oleh para ulama seperti Ibnu Rajab dan Ibnu Utsaimin diartikan sebagai bulan Safar itu sendiri. Ini adalah penegasan bahwa bulan Safar tidak memiliki kesialan inheren di dalamnya. Semua bulan, hari, dan waktu adalah ciptaan Allah, dan tidak ada satupun yang membawa kesialan secara otomatis. Semua kejadian baik dan buruk terjadi atas takdir dan kehendak-Nya semata.

Maka, sudah sangat jelas bahwasanya Safar bukanlah bulan yang sial atau keramat. Semua kepercayaan yang mengaitkan kesialan dengan bulan Safar adalah bagian dari thiyarah yang dilarang dalam Islam. Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu terjadi atas takdir Allah SWT, dan seorang Muslim wajib bertawakal hanya kepada-Nya. Mengaitkan kesialan dengan waktu tertentu adalah bentuk syirik kecil yang bisa merusak akidah.

Bagaimana dengan keutamaan bulan Safar? Apakah ada amalan khusus atau keutamaan tertentu di bulan ini? Sayangnya, tidak ada hadits shahih khusus dari Nabi SAW yang secara spesifik membahas keutamaan bulan Safar atau celaan padanya. Ulama terkemuka seperti Shiddiq Hasan Khan pernah berkata, “Saya tidak mendapati adanya hadits tentang keutamaan bulan Safar atau celaan padanya.” (Al-Mauizhah al-Hasanah, 180).

Satu hal yang perlu diwaspadai adalah beredarnya hadits palsu yang mengklaim keutamaan bulan Safar. Misalnya, hadits yang berbunyi, “Barang siapa yang mengabarkan padaku dengan keluarnya bulan Safar maka saya akan memberi kabar gembira padanya untuk masuk Surga.” Hadits ini telah ditegaskan kepalsuannya oleh Al-Iraqi sebagaimana termaktub dalam al-Fawa’id al-Majmu’ah asy-Syaukani hal 438. Penting bagi kita untuk selalu memeriksa keabsahan hadits sebelum menjadikannya dasar amalan.

Sebagai seorang Muslim, kita harus meyakini bahwa setiap bulan, setiap hari, dan setiap waktu adalah sama-sama ciptaan Allah dan memiliki potensi untuk kebaikan atau keburukan, tergantung bagaimana kita mengisinya. Fokuslah pada berbuat kebaikan, menjauhi larangan-Nya, dan senantiasa bertawakal kepada Allah dalam setiap keadaan, tanpa terpengaruh oleh mitos atau takhayul. Dengan begitu, setiap bulan akan menjadi bulan yang baik bagi kita.


Semoga informasi lengkap mengenai kalender Hijriah hari ini 22 Juli 2025, jadwal penting bulan Safar, dan pembahasan mendalam seputar mitos sial bulan Safar ini bermanfaat bagi kamu semua. Memahami kalender Hijriah dan meluruskan keyakinan yang keliru adalah bagian dari upaya kita untuk meningkatkan keimanan.

Bagaimana menurutmu, apakah kamu punya pengalaman atau pandangan lain tentang bulan Safar? Atau mungkin ada pertanyaan seputar penanggalan Hijriah yang ingin kamu diskusikan? Jangan ragu untuk berbagi pikiranmu di kolom komentar di bawah ini, ya! Mari kita saling belajar dan mengingatkan dalam kebaikan.

Posting Komentar