Inspirasi dari Syekh Mulla Ramadhan al-Buthi di Maulid Nabi, Keren Abis!
Siapa sih yang nggak kenal dengan Syekh Mulla Ramadhan al-Buthi? Beliau ini ulama besar yang dikenal selalu hadir dalam setiap majelis Maulid Nabi. Sosok kharismatik ini memiliki pandangan yang sangat menarik dan detail soal peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, lho. Kisah dan pandangan beliau ini diabadikan dengan apik oleh putranya sendiri, Syekh Sa’id Ramadhan al-Buthi, dalam kitabnya yang berjudul “Hadza Walidi.”
Dalam “Hadza Walidi”, Syekh Sa’id menguraikan secara lugas bagaimana sang ayah menyikapi perayaan Maulid Nabi. Bahkan, pandangan ini mendapat porsi pembahasan khusus yang terpisah dari topik-topik lain dalam kitab tersebut. Ini menunjukkan betapa pentingnya isu Maulid di mata Syekh Mulla Ramadhan al-Buthi dan bagaimana beliau memberikan pencerahan yang sangat relevan hingga kini.
Maulid Nabi: Majelis Dzikir yang Penuh Berkah¶
Syekh Sa’id Ramadhan al-Buthi menjelaskan, ayahnya itu selalu menghadiri majelis Maulid Nabi Muhammad SAW. Tapi ada syaratnya, ya. Majelis tersebut harus bebas dari kemungkaran atau bid’ah tercela yang bisa merusak nilai-nilai keislaman. Ini adalah prinsip dasar yang selalu dipegang teguh oleh Syekh Mulla Ramadhan dalam setiap kegiatan keagamaan.
Menurut beliau, majelis Maulid Nabi yang bersih dari hal-hal terlarang, seperti percampuran bebas antara laki-laki dan perempuan, termasuk dalam kategori majelis dzikir yang sangat dianjurkan. Beliau bahkan menyandarkan pandangan ini pada hadis sahih riwayat Imam Muslim. Hadis ini menggambarkan betapa agungnya majelis-majelis dzikir di sisi Allah SWT.
Hadis yang dimaksud adalah:
لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ ۗ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
Artinya: “Tidak duduk suatu kaum yang berdzikir kepada Allah kecuali dikelilingi Malaikat, dilimpahi rahmat, turun kepada mereka ketenangan (ketentraman hati), dan disebut-sebut oleh Allah di hadapan para makhluk di sekeliling-Nya.” (HR. Imam Muslim).
Syekh Sa’id menjelaskan bahwa hadis ini merupakan dalil kuat tentang keutamaan majelis dzikir. Bayangkan saja, siapa yang tidak ingin dikelilingi malaikat, dilimpahi rahmat, dan merasakan ketenangan hati? Ini adalah janji Allah bagi mereka yang meluangkan waktu untuk mengingat-Nya.
Majelis sholawat, pujian, atau sanjungan kepada Nabi SAW jelas merupakan bentuk dzikir yang paling utama. Maka dari itu, wajar jika majelis Maulid Nabi, yang isinya penuh dengan puji-pujian dan sholawat, termasuk dalam cakupan hadis mulia ini. Ini menegaskan bahwa Maulid bukan sekadar perayaan biasa, melainkan sebuah ibadah yang sangat mendalam.
Ketika Maulid Tercemar Kemungkaran¶
Meski begitu, Syekh Mulla Ramadhan al-Buthi sangat tegas soal batasan-batasan. Maulid Nabi yang di dalamnya terdapat unsur kemungkaran, seperti campur baur laki-laki dan perempuan tanpa batasan syar’i, atau disenandungkan syair-syair yang tidak sesuai dengan petunjuk Nabi, hukumnya akan mengikuti kemungkaran tersebut. Artinya, nilai maslahat atau kebaikannya bisa tertutup oleh mafsadah atau kerusakan yang ada.
Beliau menerapkan kaidah fiqih yang sangat penting dalam hal ini:
دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ
Artinya: “Mencegah mafsadah (kerusakan) lebih didahulukan daripada menarik kemaslahatan (kebaikan).”
Kaidah ini adalah fondasi penting dalam hukum Islam yang menunjukkan prioritas dalam menjaga kemurnian ajaran. Artinya, meskipun ada kebaikan dalam suatu aktivitas, jika ada potensi kerusakan yang lebih besar, maka menghindari kerusakan tersebut menjadi prioritas. Ini menunjukkan betapa Syekh Mulla Ramadhan sangat menjaga kemurnian ajaran Islam dalam praktik Maulid.
Sebagai contoh, coba bayangkan sebuah majelis Maulid yang niatnya baik untuk mengingat Nabi, tapi di dalamnya ada musik yang melalaikan atau interaksi yang tidak pantas antara lawan jenis. Meskipun niat awalnya baik, Syekh Mulla Ramadhan akan melihat bahwa kemungkaran yang terjadi lebih mendominasi. Oleh karena itu, beliau mengingatkan agar kita selalu menjaga adab dan syariat dalam setiap perayaan.
Berdiri Saat Maulid Nabi: Sebuah Perubahan Pandangan yang Bijak¶
Setelah membahas hukum menghadiri Maulid, Syekh Sa’id al-Buthi juga menceritakan pandangan ayahnya mengenai praktik berdiri dalam Maulid Nabi, yang di Indonesia akrab kita sebut mahallul qiyam. Ini adalah momen ketika para hadirin serentak berdiri sebagai bentuk penghormatan saat sirah Nabawiyyah dibacakan.
Menariknya, di awal masa hijrahnya ke Damaskus, Syekh Mulla Ramadhan tidak ikut berdiri. Beliau menganggap praktik berdiri itu sebagai bid’ah yang tidak sejalan dengan tujuan utama Maulid, yaitu menyimak dengan khusyuk kisah Nabi. Pandangan awal ini bahkan didukung oleh pendapat Imam Ibnu Hajar dalam Fatawi Haditsiyah yang juga menyatakan bahwa berdiri dalam Maulid Nabi termasuk bid’ah.
Namun, seiring waktu, Syekh Mulla Ramadhan menunjukkan kebijaksanaannya sebagai seorang ulama besar. Beliau menarik kembali pendapat awalnya dan kemudian ikut berdiri bersama para hadirin lain. Perubahan sikap ini bukan tanpa alasan, melainkan karena beliau menyadari bahwa tujuan utama dari berdiri adalah bentuk pengagungan yang tulus kepada Nabi Muhammad SAW.
Ini adalah cerminan dari kedalaman ilmu dan keterbukaan hati seorang ulama. Jika niatnya memang murni untuk mengagungkan Rasulullah, maka hal tersebut sangat dianjurkan oleh syariat. Tentu saja, selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an, Hadis, maupun hukum syariat lainnya yang lebih fundamental. Dengan demikian, berdiri dalam Maulid dapat dipandang sebagai ekspresi kecintaan dan penghormatan yang sah secara syar’i.
Perubahan pandangan ini menunjukkan bahwa Islam itu dinamis dan mengedepankan niat baik. Selama suatu praktik tidak melanggar syariat dan tujuannya adalah memuliakan Nabi, maka ia bisa diterima. Ini juga mengajarkan kita untuk tidak kaku dalam beragama, melainkan selalu mencari hikmah dan esensi dari setiap amalan.
Etika dan Adab dalam Majelis Maulid Nabi¶
Selain membahas hukum dan praktik berdiri, Syekh Mulla Ramadhan al-Buthi juga sangat menekankan pentingnya menjaga etika dan adab di dalam majelis Maulid Nabi. Baginya, majelis ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan tempat di mana hati kita seharusnya terkoneksi dengan Allah SWT dan Rasul-Nya.
Beliau sangat mengagumi syi’ir atau lantunan pujian yang ditujukan kepada Allah SWT maupun sanjungan kepada Rasulullah SAW. Namun, ada syaratnya: harus dilakukan dengan cara yang sesuai syariat dan penuh adab. Oleh karena itu, beliau selalu mengingatkan para penyair dan hadirin agar menjaga sikap, seolah-olah mereka sedang berada di hadapan Allah dan Rasul-Nya, bukan larut dalam kesenangan duniawi yang melalaikan. Ini adalah cerminan dari konsep ihsan, beribadah seolah melihat Allah atau merasa diawasi-Nya.
Larangan Tepuk Tangan yang Tegas¶
Salah satu hal yang sangat beliau ingkari adalah kebiasaan bertepuk tangan di majelis Maulid. Menurut Syekh Mulla Ramadhan, tepuk tangan merupakan bentuk kecerobohan yang tidak sesuai dengan nuansa dzikir yang sakral. Bahkan, mayoritas ulama juga mengingkari praktik ini dalam konteks majelis dzikir. Beliau berpendapat, majelis dzikir yang penuh keberkahan seharusnya dijaga dari praktik yang menyalahi syariat dan merusak keagungan suasana.
Syekh Sa’id mengisahkan sebuah peristiwa yang menggambarkan betapa seriusnya sang ayah mengenai hal ini. Suatu ketika, Syekh Mulla Ramadhan menghadiri sebuah majelis Maulid besar di Damaskus bersama para ulama lainnya. Saat mereka masuk ke masjid, masyarakat berbaris menyambut dengan lagu dan tepuk tangan meriah. Melihat pemandangan itu, Syekh Mulla Ramadhan sontak menunjukkan kemarahan. Wajahnya menampakkan ekspresi keingkaran yang jelas, bahkan beliau menoleh tajam kepada ulama lain yang hanya berdiam diri tanpa menunjukkan sikap apa pun. Ini menunjukkan integritas dan ketegasan beliau dalam menjaga adab di majelis ilmu dan dzikir.
Refleksi atas Keteladanan Syekh Mulla Ramadhan¶
Kisah dan pandangan Syekh Mulla Ramadhan al-Buthi ini memberikan banyak pelajaran berharga bagi kita semua. Beliau menunjukkan bagaimana seorang muslim seharusnya bersikap terhadap perayaan keagamaan: antusias dalam mengikuti kebaikan, namun tetap kritis dan tegas dalam menolak kemungkaran. Pendekatan ini adalah keseimbangan yang sempurna antara cinta dan syariat.
Syekh Mulla Ramadhan juga mengajarkan kita tentang pentingnya adab dalam segala hal, terutama dalam majelis yang berhubungan dengan Allah dan Rasul-Nya. Adab bukan hanya tentang sopan santun, tetapi juga tentang bagaimana kita menghormati syariat dan menjaga kemuliaan ajaran Islam. Keteladanan beliau mengingatkan kita bahwa ibadah bukan hanya tentang ritual, tetapi juga tentang penghayatan dan kesungguhan hati.
Tabel Perbandingan: Praktek Maulid yang Diterima vs Ditolak oleh Syekh Mulla Ramadhan
| Aspek | Diterima (Maslahat) | Ditolak (Mafsadah) |
|---|---|---|
| Niat Dasar | Mengagungkan Nabi SAW, mengingat sirah beliau, bersholawat, berdzikir kepada Allah SWT. | Niat pamer, mencari hiburan duniawi semata, atau melakukan hal yang bertentangan dengan syariat. |
| Isi Acara | Pembacaan sholawat, puji-pujian kepada Nabi, dzikir, ceramah agama yang inspiratif, sirah Nabawiyah. | Bercampur baur laki-laki dan perempuan tanpa batasan syar’i, lagu/syair yang melalaikan atau tidak sesuai syariat, perbuatan maksiat. |
| Sikap Fisik | Berdiri (mahallul qiyam) sebagai bentuk pengagungan kepada Nabi, duduk khusyuk menyimak. | Bertepuk tangan yang dianggap kecerobohan dan tidak sesuai adab dzikir, perilaku gaduh, melalaikan. |
| Tujuan Akhir | Mendapatkan keberkahan, rahmat, ketenangan hati, meningkatkan kecintaan kepada Nabi dan Allah. | Mencari kesenangan sesaat, mengikuti tradisi tanpa pemahaman, potensi dosa. |
Syekh Sa’id al-Buthi pada akhirnya menegaskan bahwa ayahnya sangat memegang teguh dua prinsip penting dalam agama: berpegang pada ajaran tasawuf yang murni dan penuh adab, serta menjauhi segala bentuk bid’ah dan kemungkaran. Inilah fondasi kokoh yang selalu beliau jaga dalam menghadiri maupun menilai majelis Maulid Nabi. Beliau adalah contoh nyata seorang ulama yang memadukan kedalaman spiritual dengan ketegasan syar’i.
Prinsip-prinsip ini sangat relevan untuk kita saat ini. Di tengah banyaknya perdebatan dan perbedaan pendapat, sikap Syekh Mulla Ramadhan al-Buthi mengingatkan kita untuk selalu kembali kepada esensi: cinta kepada Nabi, ketulusan dalam beribadah, dan ketaatan pada syariat. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari teladan beliau. Wallahu a’lam.
Bagaimana pendapatmu tentang pandangan Syekh Mulla Ramadhan al-Buthi ini? Apakah ada praktik Maulid di daerahmu yang menurutmu perlu diperhatikan lagi berdasarkan prinsip-prinsip beliau? Yuk, diskusikan di kolom komentar di bawah!
Posting Komentar